KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan
kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita dan tidak
lupa pula kita mengirim salam dan salawat kepada baginda Nabi Besar Muhammad
SAW yang telah membawakan kita suatu ajaran yang benar yaitu agama Islam,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Wanita Kewirausahaan” ini dengan lancar.
Makalah ini ditulis dari hasil
penyusunan data-data yang kami peroleh dari sumber buku yang berkaitan dengan kewirausahaan , tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada
pengajar mata kuliah Kewirausahaan atas
bimbingan dan arahan dalam penulisan makalah ini, juga kepada rekan-rekan
mahasiswa yang telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.Kami
harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua,dalam
hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai implementasi iman dan takwa dalam
kehidupan modern, khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari
sempurna,maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan
menuju arah yang lebih baik.
Daftar isi
1. Dorongan R. A. kartini
2. Skala Mengukur Minat
Wirausaha
3. faktor-faktor yang menunjang / menghambat
wanita wirausaha
4. Perbedaan Wanita Wirausaha dan Pria Wirausaha
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wanita
berdikari atau wanita berwirausaha sudah sejak lama menjadi pemikiran dan isi
hati Ibu Kartini. Dunia bisnis atau dunia wirausaha bukan milik kaum Adam
semata sebagai pemain tunggal, tapi dunia ini sudah menjadi trend masa kini
buat wanita. Jumlah wanita yang terjun di dunia wirausaha tidaklah sedikit.
Bahkan tidak jarang di berbagai perusahaan besar, wanitalah yang memegang
peranan penting sebagai pucuk pimpinan. Inilah kenyataannya bahwa wanita bisa
disejajarkan dengan pria dari segi bisnis.
Diungkapkan
oleh DR. Suparman Sumahamijaya (1980: 96). Sesungguhnya Ibu Kartini telah
merintis pendidikan mandiri bagi wanita sejak beliau berumur 16 tahun, sejak
sekitar tahun 1893. Hal ini dapat dibuktikan dari hampir semua tulisan Ibu
Kartini yang termuat di dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dengan
judul Door Duisternis Tot Licht, dimana hampir setiap halaman
surat-suratnya penuh dengan kata-kata perlunya pengembangan watak dan
pembentukan watak di atas pendidikan otak. Karena dengan pembentukan watak, Ibu
Kartini yakin manusia akan lebih mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung
dari kerabat dan dari siapapun. Berkali-kali ditekankan perlunya kepercayaan
pada diri sendiri.
1.2. Rumusan Masalah
1.
Bagaiamanakah Dorongan RA Kartini
dalam bidang Kewirausahaan bagi kaum Wanita?
2. bagaimana cara mengetahui minat wanita dan
pria dalam dunia kewirausahaan ?
3. apa hambatan seseorang wanita dalam
berwirausaha ?
4. apa perbedaan antara wanita dan pria dalam
berwirausaha ?
1.3. Tujuan Penulisan
Makalah
ini disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah “Wanita wirausaha” dan juga tujuan penulis agar mengetahui,
paham dan dapat mengembangkannya dalam keseharian.
BAB II PEMBAHASAN
WANITA WIRAUSAHA
1. Dorongan R. A. kartini
Wanita
berdikari atau wanita berwirausaha sudah sejak lama menjadi pemikiran dan isi
hati Ibu Kartini. Dunia bisnis atau dunia wirausaha bukan milik kaum Adam
semata sebagai pemain tunggal, tapi dunia ini sudah menjadi trend masa kini
buat wanita. Jumlah wanita yang terjun di dunia wirausaha tidaklah sedikit.
Bahkan tidak jarang di berbagai perusahaan besar, wanitalah yang memegang
peranan penting sebagai pucuk pimpinan. Inilah kenyataannya bahwa wanita bisa
disejajarkan dengan pria dari segi bisnis.
Diungkapkan
oleh DR. Suparman Sumahamijaya (1980:96): Sesungguhnya Ibu Kartini telah
merintis pendidikan mandiri bagi wanita sejak beliau berumur 16 tahun, sejak
sekitar tahun 1893. Hal ini dapat dibuktikan dari hampir semua tulisan Ibu
Kartini yang termuat di dalam kumpulan surat-suratnya yang dibukukan dengan
judul Door Duisternis Tot Licht, dimana hampir setiap halaman
surat-suratnya penuh dengan kata-kata perlunya pengembangan watak dan
pembentukan watak di atas pendidikan otak. Karena dengan pembentukan watak, Ibu
Kartini yakin manusia akan lebih mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung
dari kerabat dan dari siapapun. Berkali-kali ditekankan perlunya kepercayaan
pada diri sendiri.
Surat-surat
Ibu Kartini dibukukan pula dengan judul Letters of A Javanese Princess dan
beredar di Amerika semenjak tahun 1921 oleh Charles Scribner Sons, New York.
Penerjemahnya yang bernama Agnes Louise Symmers menyebutkan bahwa Ibu Kartini
dalam perjuangannya menyadari bahwa The freedom of women could only
come through economic independence (kebebasan wanita hanya bisa datang
dari kebebasan ekonomi).
Perjuangan
Kartini bukan hanya kaum wanita saja, tetapi dia berjuang untuk seluruh
kemanusiaan yang selama ini tidak bisa dilakukan oleh wanita.
Walaupun
usia beliau hanya mencapai 25 tahu, tapi beliau berhasil menyajikan karya tulis
sebanyak kurang lebih 450 halaman, yamg mana karya tulis tersebut mengandung
kepadatan kata-kata dengan arti yang sangat dalam, keras, dan mengesankan.
Kemampuan
berwirausaha bisa kita ukur dengan skala minat dan keinginan dalam
berwirausaha, meskipun skala tersebut tidak mutlak kebenarannya, akan tetapi
setidaknya bias menjadi toak ukur sejauh mana minat usaha kita, atau minat kita
dalam berwirausaha.
2. Skala Mengukur Minat Wirausaha
Mengukur diri sendiri dengan cara melingkari salah satu
angka yang sesuai dengan pribadi anda. Arti dari masing-masing angka adalah:
5 = Sangat Kuat
4 = Kuat
3 = Sedang
2 = Lemah
1 = Lemah Sekali
Pedoman wawancara adalah sebagai berikut.
- Bagaimana sejarah hidup
pemiliknya?
- Apakah salah seorang famili dari
pemilik memiliki usaha ?
- Apakah pemilik ini pernah bekerja
di perusahaan sebelumnya?
- Pernakah ia memimpin perusahaan
sebelumnya?
- Adakah dasar pengetahuan yang ia
miliki yang mendorong untuk membuka usaha?
- Mengapa ia terdorong untuk
membuka bisnis ?
- Mengapa ia memilih bisnis di
bidang ini?
- Apakah bentuk hokum dari usaha
ini?
- Apakah ada perijinan yang perku
diurus dulu sebelum perusahaan berjalan?
- Berapa jumlah uang yang ia miliki
pada saat membuka usaha?
- Dari mana ia mendapatkan uang
itu?
- Apakah jumlah uang itu ideal
untuk memulai usaha?
- Berapa lama ia mampu untuk
mencapai titik “break event”
- Bagaimanakh perencanaan yang
dibuat oleh pemilik sebelum membuka usaha?
- Berapa lama ia menyusun
perencanaan, dan apakah selalu dikembangkan?
- Adakah tenaga ahli yang ia
gunakan? Tenaga ahli dalam bidang apa?
- Bagaimana dan mengapa ia memilih
lokasi di tempat ini
- Apakah ia mempromosikan pembukaan
usahanya?
- Masalah apakah yang ia hadapi
sejak membuka usaha sampai sekarang?
- Bagaimana mengatasi masalah itu?
- Catatan apa saja yang ia buat
dalam perusahaan?
- Bagaimana reaksi familinya
terhadap kegiatan usahanya?
- Apakah keuntungan dan kerugian
membuka usaha?
- Informasi dan keterampilan apa
saja yang diperlukan untuk membuka usaha ini?
- Nasehat apa yuang ia berikan
apabila ada wanita lain yang ingin membuka usaha sejenis?
- bagaiman masa depan dari usaha
ini?
Pada umumnya orang terdorong membuka usaha sendiri karena
faktor berikut:
- Membuka kesempatan untuk memperoleh keuntungan
- Memenuhi keinginan dan minat pribadi
- terbuka kesempatan untuk menjadi “Bos”
- Adanya kebebasan dalam manajeman
Dengan adanya dorongan diatas , maka
pada saat permulaan orang ingin membuka usaha dalam bentuk perorangan, dan
setelah usahanya berkembang, maka orang mulai mempertimbangkan bentuk usaha
lain misalnya persekutuan yang berbadan hukum.
3. faktor-faktor yang menunjang /
menghambat wanita wirausaha
Faktor yang menunjang wanita Wirausaha
yaitu:
1. Naluri kewanitaan yang bekerja lebih cermat, pandai mengantisipasi masa
depan, menjaga keharmonisan, kerja sama dalam rumah tangga dapat diterapkan
dalam kehidupan usaha.
2. Mendidik anggota keluarga agar berhasil dikemudian hari, dapat dikembangkan
dalam personel Manajement Perusahaan.
3. Faktor adat istiadat, contohnya di bali dan sumatra barat, dimana wanita
memegang peranandalam mengatur ekonomi rumah tangga.
4. Lingkungan kebutuhan hidup seperti jahit menjahit, menyulam, membuat kue,
aneka masakan, kosmetika, mendorong lahirnya wanita pengusaha yang
mengembangkan komoditi tersebut.
5. Majunya dunia pendidikan wanita sangat mendorong perkembangan wanita karir,
menjadi pegawai, atau membuka usaha sendiri dalam berbagai bidang usaha.
Banyaknya kaum
wanita dan kelompok minoritas terjun ke dunia usaha, yang kebanyakan dalam
usaha small business, didorong oleh alasan2 berikut :
•
Entrepreneurial idea : 35 %
•
Glass ceiling : 22%
Glass ceiling ini
agak spesifik. Apa artinya glass ceiling? The glass ceiling is an invisible
barrier that keeps women and minorities from reaching the highest level
positions (Bovee 2004). Glass ceiling artinya satu hambatan yang tidak
kelihatan bagi wanita dan kelompok minoritas untuk mencapai posisi-jabatan
lebih tinggi dalam sebuah organisasi. Hambatan secara diam-diam ini, karena
dominasi karyawan pria, dan banyaknya gangguan bagi karyawan wanita karena
masalah keluarganya, kesehatan dsb. Dan juga adanya sexism, job discrimination
dan sexual harassment.
•
Bore in job
14%
•
Downsized
10%
Akibat perampingan
organisasi, penciutan karyawan, berimbas kepada beralihnya perhatian pada
bisnis kecil, mendirikan usaha sendiri.
•
Fell into
it
10%
•
Family
event
5%
•
Born entrepreneur
4%
Faktor yang
menghambat wanita Wirausaha yaitu:
1. Faktor kewanitaan, dimana sebagai ibu rumah tangga
ada masa hamil, menyusui, tentu agak menganggu jalanya bisnis. Hal ini dapat
diatasi dengan dengan mendelegasikan wewenang atau tugas kepada karyawan lain.
Tentunya pendelegasian ini mempunyai keuntungan dan kerugian.jalannya
perusahaan tidak akan persis sama bila dipimpin oleh pemilik sendiri, jadi ada
dua kemungkinan, lebih baek atau lebih buruk.
2. Faktor sosial budaya, adat istiadat, wanita sebagai ibu rumah tangga
bertanggung jawab penuh dalam urusan rumah tangga, bila anak atau suami sakit,
ia harus memberi perhatian penuh, dan ini akan mengganggu aktivitas usahanya.
Jalannya bisnis yang dilakukan oleh wanita tidak sebebas yang dilakukan oleh
laki laki.
3. Faktor emosional yang dimiliki wanita, disamping menguntungkan dan juga bisa
merugikan, misalnya dalam mengambil keputusan, karena ada faktor emosional,
maka keputusan yang diambil akan kehilangan rasionalitasnya. Juga dalam
memimpin karyawan, muncul elemen2x emosional yang mempengaruhi hubungan dengan
karyawan pria atau wanita yang tidak rasional lagi.
4. Sifat pandai, cekatan, hemat dalam mengatur keuangan rumah tangga, akan
mempengaruhi terhadap keuangan perusahaan. Kadang kadang wanita pengusaha agak
sulit dalam mengeluarkan uang, dan harga – harga dipasang agak tinggi.
Kibiasaan kaum ibu ialah bila mau membeli ia menawar rendah skali tapi bila
menjual ingin tinggi.
Penyebab
beberapa pelaku bisnis kecil mengalami KEGAGALAN :
1.
Management incompetence – kurang menguasai manajemen
2.
Lack of industry experience – kurang pengalaman dalam industry
3.
Inadequate financing – kekurangan modal
4.
Poor business planning – perencanaan bisnis kurang matang
5.
Unclear or unrealistic goals – kurang jelas, tidak realistic dalam
menetapkan tujuan
6.
Failure to attract and keep target
customer – tidak berhasil menarik
konsumen
7.
Uncontrolled growth – pertumbuhan tidak terkendali
8.
Inappropriate location – lokasi kurang cocok
9.
Poor inventory and financial controls – keuangan kurang kontrol , persediaan barang kurang mencukupi
4. Perbedaan Wanita
Wirausaha dan Pria Wirausaha
Wanita pengusaha bertumbuh sangat
pesat di Amerika, terutama di segmen bisnis kecil. Wanita membuka bisnis dua
kali lipat banyaknya dari pria. Pada saat ini wanita memiliki sepertiga dari
semua bentuk bisnis, dan diharapkan akan tumbuh menjadi 50% wanita pengusaha
pada tahun 2000.
Perbedaan-perbedaan ini antara lain :
1. Wanita Pengusaha dimotivasi untuk membuka bisnis karena ingin berprestasi dan
adanya frustasi dalam pekerjaan sebelumnya, dia merasa terkekang karna tidak
dapat menampilkan kebolehannya dan mengembangkan bakat2x yang ada pada dirinya
2. Dalam hal permodalan bisnis pria pengusaha lebih leluasa memperoleh sumber
modal sedangkan wanita memperoleh modal dari tabungannya, harta pribadi dan
pinjaman pribadi, agak sulit bagi wanita pengusaha memperoleh pinjaman
perbankan dibandingan kaum pria.
3. Mengenai karakteristik kepribadian wanita pengusaha mempunyai sifat
toleransi dan flexible, realistik dan kreatif, antusias dan enerjik dan mampu
berhubungan dengan lingkungan masyarakat dan memiliki medium level of self
confidence, kaum pria self confidencenya lebih tinggi dari kebanyakan wanita.
4. Usia memulai usaha pria rata2x umur 25-35, sedangkan wanita di berusia
35-45.
5. Kerabat yang menunjang pada pengusaha wanita adalah keluarganya, suami,
organisasi wanita dan kelompok kelompok sepergaulannya.
6. Bentuk bisnis yang dibuka pada pria pengusaha lebih banyak ragamnya akan
tetapi pada wanita pengusaha kebanyakan berhubungan bisnis jasa, pendidikan,
konsultan, dan public relation
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Setelah
Mempelajari materi wanita wirausaha ini Maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
Penerapan Kewirausahaan ini digunakan oleh Wanita Wirausaha untuk kepentingan
eksekutif agar proses analisis terhadap Pelaku Usaha menjadi lebih mudah karena
alat bantu makalah ini dapat mengekstrak data serta mengklasifikasikan ke dalam
kelas yang terbentuk bagi para mahasiswa serta Alat bantu makalah ini
memberikan visualisasi informasi terhadap hasil analisis dalam bentuk laporan,
grafik ataupun chart dan memberikan manfaat bagi eksekutif event Wanita
Wirausaha di mana output yang dihasilkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
penentuan tema seminar serta workshop.
Saran
Kini RA Kartini telah tiada,
cita-cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dicapai kaum
wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penanya semasa hidup yang
kita kenal dengan buku “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG”.
Mari kita pertahankan hasil
perjuangan para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan dengan penuh kedamaian dan
perdamaian bangsa
Daftar pustaka
Alma,
Buchari.2011.Kewirausahaan.Bandung:Alfabeta